1. Angkat-Angkatan – Eman Sabudi Subandi (Putu Emon)
Karya ini terinspirasi dari pola atau cara permainan pada gending angkat angkatan gender wayang Bali yang dimainkan dengan birama 6/8 dan subdivisi permainan 4/4 pada drumset.
2. Tenget Gamang – I Gde Agustina Yoga Putra (Yoga)
Gamang adalah sejenis makhluk halus yang dipercaya mendiami sungai atau tempat-tempat sepi, dengan wujud yang tidak jelas. Kata ini juga menggambarkan kondisi yang tidak stabil, goyah, atau penuh ketidakpastian, baik secara fisik maupun emosional. Dalam konteks spiritual, istilah ini sering digunakan untuk merefleksikan pencarian keseimbangan dalam diri.
Terinspirasi dari konsep tersebut, penata karya ini mentransformasikannya menjadi sebuah komposisi musikal sederhana. Pengolahan nada dan instrumen didasarkan pada tafsir pribadi terhadap gagasan utama yang dikaitkan dengan konteks alam lain. Penggunaan instrumen tradisional seperti selonding dan gong tidak hadir sebagai pelengkap semata, melainkan sebagai bentuk reinterpretasi terhadap aktivitas dimensi lain yang tak kasatmata—fenomena yang kerap luput dari penglihatan biasa. Bunyi dan suara yang dibalut dalam komposisi ini menonjolkan esensi nuansa alam lain, menyajikan pengalaman musikal yang transenden dan kontemplatif.
3. Simbol – I Gede Mei Sutrisna Yasa (Ukisangan)
Apapun itu tentang tanda. Sesuatu yang biasa dilakukan mungkin saja adalah tanda, apalagi sesuatu yang tidak biasa dilakukan? Tapi, entah apapun dan berapapun tafsirannya, aku terima semua. Terima kasih.
4. Mutusake – Ni Made Ayu Dwi Sattvitri (Sattvitri)
Seekor cicak meninggalkan ekornya secepat kilat bergeliatan tak tentu arah sontak membuyarkan konsentrasi kami. Terkejut dengan gerak ekor cicak, tangan pun demikian spontan memukul bilah-bilah gamelan tak tentu nada. Semuanya mengekspresikan keterkejutan, sebelah tangan spontan memukul bilahan daun dengan nada baur. Secepat dapatnya menjauh meninggalkan ekor cicak dan gaungan nada terakhir yang sempat terjamah oleh pukulan, seolah gending yang dimainkan terpotong layaknya ekor cicak.
Sedemikian pengalaman pada saat itu, terbesit ide untuk menuangkan nada keterkejutan ekspresi kegeliatan ekor cicak. Gamelan Gender Wayang menjadi pilihan dengan gending Gender Wayang Cecek Megelut menjadi dasar pijakan inspirasi agar selaras dengan ide yang dituangkan. Ibaratkan dua ekor cicak yang bergelutan entah berkelahi ataupun sedang memadu kasih melepaskan ekornya karena terkejut ketika ada yang melihat keberadaannya. Ekspresi keterkejutan lepasnya ekor cicak digambarkan dalam rangkaian nada ekspresif meninggalkan rasa tak tentu layaknya geliatan ekor cicak. Bergerak tak tentu arah meninggalkan potongan ekor dengan rasa tak tentu dalam rangkaian nada ekspresif Mutusake.
5. Cecek Megelut – I Made Subandi (Subandi)
Sebuah karya klasik dari gender wayang, yang diaransemen ulang dan diinterpretasikan kembali untuk gamelan semar pegulingan, dan dimainkan dengan instrumen dalam Museum Wiswakarma.
6. Ngangkih – Pande Kadek Ega Sasdicka (Dega Pande)
Sebuah komposisi musik yang diungkapkan dengan media suling. Permainan yang diolah dengan pola-pola musikal yang ada, dengan memanfaatkan beberapa lubang di suling tersebut. Ngangkih adalah cara bernafas, dalam kekaryaan ini ngangkih digunakan untuk mencari warna suara di setiap lubang suling itu sendiri, maka jadilah karya dengan judul Ngangkih.
Terima kasih khusus kepada Museum Wiswakarma karena telah mengizinkan kami untuk melakukan perekaman di tempat mereka yang indah dan menginspirasi!
Recording session coordinator(s): I Putu Gede Sukaryana
Recording date(s): 2023/07/26
Recording location(s): Museum Wiswakarma
Audio recording: Zachary Hejny, Jonathan Adams
Video recording: I Putu Gede Sukaryana
Crew: Pande Kadek Ega Sasdicka (Dega Pande), Ethan Rohl
Audio mixing: Jonathan Adams
Audio mastering: Jonathan Adams
Video editing: I Putu Gede Sukaryana
Photography: Jonathan Adams, Ethan Rohl
Cover art: Jonathan Adams