Insitu Recordings

Explorasi

Resonance

Open Albums (Growing Playlists)

Insitu Sessions Volume 7

Kompilasi karya yang dilakukan pada Insitu Session 26 Juli 2023 di Museum Wiswakarma Desa Batubulan Kab. Gianyar, Bali. 
Volume ketujuh dalam seri Insitu Sessions kami menampilkan enam karya inovatif yang direkam di tengah keajaiban arsitektur di Museum Wiswakarma di Batubulan, Gianyar. Beberapa karya unggulan termasuk versi panjang dari Cecek Megelut karya I Made Subandi, yang dibawakan di sini dengan menggunakan gamelan semar pegulingan yang terbuat dari kotak instrumen bekas yang tersimpan di museum, Angkat-Angkatan karya Putu Eman Sabudi Subandi yang bersemangat untuk drum set, gender kromatik, dan gong, Tenget Gamang karya I Gde Agustina Yoga Putra, sebuah eksplorasi yang menghantui untuk ansambel campuran, dan Mutusake karya Ni Made Ayu Dwi Sattvitri, reinterpretasi yang menyenangkan dari karya gender wayang populer Cecek Megelut. Volume ini menangkap dukungan tak tergoyahkan dari mendiang I Made Subandi kepada orang-orang di sekitarnya dan pengaruhnya yang abadi pada musik Bali. Rekaman ini dilakukan pada Insitu Session terakhir yang didukung oleh guru, mentor, dan teman tercinta ini, dan menunjukkan bahwa murid-muridnya telah menjadi komposer yang tangguh.
Imprint: Explorasi
Length: 36 minutes

Track Details

1. Angkat-Angkatan – Eman Sabudi Subandi (Putu Emon)
Karya ini terinspirasi dari pola atau cara permainan pada gending angkat angkatan gender wayang Bali yang dimainkan dengan birama 6/8 dan subdivisi permainan 4/4 pada drumset.
Komposer: Putu Eman Sabudi Subandi (Putu Emon)
Drums: Putu Eman Sabudi Subandi (Putu Emon)
Gender kromatik: I Nyoman Ganggas Randu Dananjaya
Gender kromatik: I Made Kresna Mas Dwimahardika
Gender kromatik: Pande Komang Aditya Mahendra
Gender kromatik: I Made Widiantara Putra
Gong: I Komang Bagus Ari Yunnan
Gong: Komang Robin Purnama
2. Tenget Gamang – I Gde Agustina Yoga Putra (Yoga)
Gamang adalah sejenis makhluk halus yang dipercaya mendiami sungai atau tempat-tempat sepi, dengan wujud yang tidak jelas. Kata ini juga menggambarkan kondisi yang tidak stabil, goyah, atau penuh ketidakpastian, baik secara fisik maupun emosional. Dalam konteks spiritual, istilah ini sering digunakan untuk merefleksikan pencarian keseimbangan dalam diri.  
Terinspirasi dari konsep tersebut, penata karya ini mentransformasikannya menjadi sebuah komposisi musikal sederhana. Pengolahan nada dan instrumen didasarkan pada tafsir pribadi terhadap gagasan utama yang dikaitkan dengan konteks alam lain. Penggunaan instrumen tradisional seperti selonding dan gong tidak hadir sebagai pelengkap semata, melainkan sebagai bentuk reinterpretasi terhadap aktivitas dimensi lain yang tak kasatmata—fenomena yang kerap luput dari penglihatan biasa. Bunyi dan suara yang dibalut dalam komposisi ini menonjolkan esensi nuansa alam lain, menyajikan pengalaman musikal yang transenden dan kontemplatif.
Komposer: I Gde Agustina Yoga Putra (Yoga) 
Instrumen: pencon, gong selonding, gong
Musicians: I Gde Agustina Yoga Putra, I Putu Khrisnayana Rangga, ⁠I Gusti Putu Ari Indra Kusuma, ⁠I Made Rino Erawan, ⁠I Putu Bagus Andika Putra
3. Simbol – I Gede Mei Sutrisna Yasa (Ukisangan)
Apapun itu tentang tanda. Sesuatu yang biasa dilakukan mungkin saja adalah tanda, apalagi sesuatu yang tidak biasa dilakukan? Tapi, entah apapun dan berapapun tafsirannya, aku terima semua. Terima kasih.
Komposer: I Gede Mei Sutrisna Yasa (Ukisangan)
Instrumen: bilah
Musisi: Dewa Mesi Wisnuwimba Nantha, I Kadek Yogi Gunawan, I Wayan Agus Adi Dharma, I Wayan Ediana
4. Mutusake – Ni Made Ayu Dwi Sattvitri (Sattvitri)
Seekor cicak meninggalkan ekornya secepat kilat bergeliatan tak tentu arah sontak membuyarkan konsentrasi kami. Terkejut dengan gerak ekor cicak, tangan pun demikian spontan memukul bilah-bilah gamelan tak tentu nada. Semuanya mengekspresikan keterkejutan, sebelah tangan spontan memukul bilahan daun dengan nada baur. Secepat dapatnya menjauh meninggalkan ekor cicak dan gaungan nada terakhir yang sempat terjamah oleh pukulan, seolah gending yang dimainkan terpotong layaknya ekor cicak.
Sedemikian pengalaman pada saat itu, terbesit ide untuk menuangkan nada keterkejutan ekspresi kegeliatan ekor cicak. Gamelan Gender Wayang menjadi pilihan dengan gending Gender Wayang Cecek Megelut menjadi dasar pijakan inspirasi agar selaras dengan ide yang dituangkan. Ibaratkan dua ekor cicak yang bergelutan entah berkelahi ataupun sedang memadu kasih melepaskan ekornya karena terkejut ketika ada yang melihat keberadaannya. Ekspresi keterkejutan lepasnya ekor cicak digambarkan dalam rangkaian nada ekspresif meninggalkan rasa tak tentu layaknya geliatan ekor cicak. Bergerak tak tentu arah meninggalkan potongan ekor dengan rasa tak tentu dalam rangkaian nada ekspresif Mutusake.
Komposer: Ni Made Ayu Dwi Sattvitri (Sattvitri)
Ansambel: gender wayang
Musisi: Ni Made Ayu Dwi Sattvitri, I Putu Prakash Narendra Putra Artana, Komang Mahendra Adi Putra, Kadek Dwi Segara Putra
5. Cecek Megelut – I Made Subandi (Subandi)
Sebuah karya klasik dari gender wayang, yang diaransemen ulang dan diinterpretasikan kembali untuk gamelan semar pegulingan, dan dimainkan dengan instrumen dalam Museum Wiswakarma.
Komposer: I Made Subandi (Subandi)
Ansambel: semar pegulingan
6. Ngangkih – Pande Kadek Ega Sasdicka (Dega Pande)
Sebuah komposisi musik yang diungkapkan dengan media suling. Permainan yang diolah dengan pola-pola musikal yang ada, dengan memanfaatkan beberapa lubang di suling tersebut. Ngangkih adalah cara bernafas, dalam kekaryaan ini ngangkih digunakan untuk mencari warna suara di setiap lubang suling itu sendiri, maka jadilah karya dengan judul Ngangkih.
Komposer: Pande Kadek Ega Sasdicka (Dega Pande)
Instrumen: suling
Musisi: Agung Panji, Agus Adi Dharma, Dek Kasim, Kadek Yogi, Yan Abing, Gung Riski

Special Thanks

Terima kasih khusus kepada Museum Wiswakarma karena telah mengizinkan kami untuk melakukan perekaman di tempat mereka yang indah dan menginspirasi!

Production Credits

Recording session coordinator(s): I Putu Gede Sukaryana
Recording date(s): 2023/07/26
Recording location(s): Museum Wiswakarma
Audio recording: Zachary Hejny, Jonathan Adams
Video recording: I Putu Gede Sukaryana
Crew: Pande Kadek Ega Sasdicka (Dega Pande), Ethan Rohl
Audio mixing: Jonathan Adams
Audio mastering: Jonathan Adams
Video editing: I Putu Gede Sukaryana
Photography: Jonathan Adams, Ethan Rohl
Cover art: Jonathan Adams

Contributors